Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang isra’: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18: “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Isra’ Mi’raj adalah gabungan 2 perjalanan Nabi Muhammad SAW yakni;
1. Perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha / Baitul Maqdis (Palestina).
2. Perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsha / Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha (alam ghaib/alam dimensi lain/alam ruh(?).
Kedua perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu semalam
PERTANYAAN MENARIK SESEORANG:
1. Bagaimana bisa Isra’ Mi’raj ditempuh dalam waktu semalam dan naik kendaraan apa Rasulullah saat perjalajan tersebut?
2. Bagaimana bisa Rasulullah melihat Surga dan Neraka serta segala isi kedua yang padahal Surga dan Neraka belum terbentuk serta manusia belum ada yang menghuni kedua tempat tersebut?
3. Allah SWT tidak bisa ditawar tapi kenapa Rasulullah bisa menawar jumlah shalat wajib dari 50 kali sampai akhirnya 5 kali hingga sekarang?
JAWABAN NALAR SAYA:
1. Surah Ar Rhaman
Ayat 31-40
سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلَانِ
31. Kami akan memperhatikanmu sepenuhnya, wahai manusia dan jin.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
32. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Kata tsaqula memiliki arti berbobot. Sementara itu, tsaqaldn bermakna dua entitas atau realitas, yang kasat-mata dan yang tak kasatmata. Kata ini juga bisa berarti dua pasukan. Kata faragha berarti hampa, menyelesaikan, dan di sini bennakna menerapkan atau menguasai. Setiap jinn dan ins, baik mukmin ataupun kafir, yang memperoleh pengetahuan atau tetap berada dalam kebodohan, akan mengetahui dan mengalami hari perhitungan. Setiap orang pun mengetahui bahwa urusan apa pun yang ditanganinya pastilah akan berakhir. Jika urusan itu tidak berakhir di dunia ini sewaktu ia masih hidup, maka urusan itu akan berakhir pada kiamat pribadinya, pada saat kematiannya. Manusia betul-betul terpojok. la tidak bisa lari dari penjara waktu. Jika manusia sudah tiba waktunya mad dalam situasinya, ia akan dihidupkan kembali oleh Tuhan Yang Mahabenar tak beiwaktu yang meliputi ukuran-ukuran penjara ini. Jika Anda meninggal dekat jam, maka Anda tidak akan mendengamya lagi—jam itu seolah-olah pergi. Sejauh menyangkut diri Anda, tidak akan ada lagi jam; Anda sudah akan melampauinya.
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
33. Wahai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus dan melintasi penjuru langit dan bumi, maka tembus dan lintasilah! Kamu tidak akan dapat menembus dan melintasinya kecuali dengan kekuatan.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
34. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Kata quthr (jamak dari aqthar) mengandung arti garis tengah, daerah, zona, atau sesuatu yang terliputi—suatu daerah kekuasaan. Jika seseorang menggunakan kompas, maka ia menciptakan suatu lingkaran yang mencakup angkasa. “Jika kamu sanggup menernbus dan melintasi penjuru langit dan bumi, maka tembus dan lintasilah. Kamu tidak akan dapat menembus dan melintasinya kecuali dengan kekuatan.” Allah mendorong manusia untuk menjelajah, tetapi ia tidak bisa melakukannya kecuali bila ia memiliki kekuatan, kecuali bila ia memiliki kemampuan dan kesanggupan (sulthan). Ini adalah tantangan positif bagi manusia.
Setiap daerah atau zona mempunyai suatu energi. Jika manusia ingin pergi melampaui suatu daerah, maka ia harus mampu menembus batasnya. Untuk melepaskan diri dari tarikan gravitasi bumi, seseorang mesti mencapai kecepatan 17.000 mil per jam. Manusia membutuhkan sulthan untuk mengatasi gravitasi. Semua kekuatan adalah bagian dari satu-satunya Kekuatan serba meliputi, yakni kekuatan lintas-daerah.
يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنتَصِرَانِ
35. Kepada kamu (jin dan manusia) disemburkan nyala api dan cairan tembaga. Maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri darinya.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
36. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Dalam batas-batas langit dan bumi ada satu titik ketika penembusan berhenti. Ada batas bagi setiap sistem dan setiap situasi penciptaan. Jinn dan ins dapat menembus langit, sebagaimana sudah dilakukan manusia dalam beberapa dekade terakhir ini. Akan tetapi, ada zona-zona di langit yang tidak akan mampu dilewati manusia karena aktivitas besar berbagai meteor atau karena adanya radiasi atau beberapa faktor lainnya. Sebagaimana ada batas-batas dalam perjalanan lahiriah manusia, maka begitu pulalah ada batas-batas dalam perjalanan batiniahnya. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Aku hanya diberi sedikit pengetahuan batiniah.” Inilah hukum-hukum Tuhan Yang Mahabenar. Bagaimana manusia bisa mengingkari rahmat Allah? Bahkan berbagai keterbatasan dan maknanya—bahwa manusia terpenjara dalam ruang dan waktu—adalah anugerah yang besar.
JADI RASLULLAH MENAIKI KENDARAAN SUPER HYPER CEPAT (BAGAIIMANA LAGI MEMBAYANGKAN KECEPATAN TINGGI KENDARAAN YANG SANGAT CEPAT SEKALI TERSEBUT) ATAU DENGAN KECEPATAN WARP (SEPERTI FILM FIKSI ILMIAH) YANG BERNAMA BURAQ.
Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan menemukan istilah “buraq” yang diartikan sebagai “Binatang kendaraan Nabi Muhammad SAW”, dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam pemakaian umum “buraq” itu berarti burung cendrawasih yang oleh kamus diartikan dengan burung dari sorga (bird of paradise). Sebenarnya “buraq” itu adalah istilah yang dipakai dalam AlQur’an dengan arti “kilat” termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan istilah aslinya “Barqu”.
Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau 300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit.
Jarak sedemikian besar disebut 1 AU atau satu Astronomical Unit, dipakai sebagai ukuran terkecil dalam menentukan jarak antar benda angkasa. Dan kita sudah membahas bahwa Muntaha itu letaknya diluar sistem galaksi bimasakti kita, dimana jarak dari satu galaksi menuju kegalaksi lainnya saja sekitar 170.000 tahun cahaya. Sedangkan Muntaha itu sendiri merupakan bumi atau planet yang berada dalam galaksi terjauh dari semua galaksi yang ada diruang angkasa.
Amatlah janggal jika kita mengatakan bahwa buraq tersebut dipahami sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang keangkasa bebas. Orang tentu dapat mengetahui bahwa sayap hanya dapat berfungsi dalam lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda kebelakang untuk gerak maju kemuka atau ditekan kebawah untuk melambung keatas.
Udara begitu hanya berada dalam troposfir yang tingginya 6 hingga 16 Km dari permukaan bumi, padahal buraq itu harus menempuh perjalanan menembusi luar angkasa yang hampa udara dimana sayap tak berguna malah menjadi beban. Dengan kecepatan kilat maka binatang kendaraan itu, begitu juga Nabi yang menaiki, akan terbakar dalam daerah atmosfir bumi, sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas dalam menempuh jarak yang sangat jauh sementara itu harus mengelakkan diri dari meteorities yang berlayangan diangkasa bebas.
Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah melakukan perjalanan mi’rajnya dengan menggunakan binatang ataupun hewan bersayap sebagaimana yang diyakini oleh orang selama ini.
Penggantian istilah dari Barqu yang berarti kilat menjadi buraq jelas mengandung pengertian yang berbeda, dimana jika Barqu itu adalah kilat, maka buraq saya asumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang mempunyai sifat dan kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan sinar.
Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap tinggal dibumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai hanya dalam beberapa saat saja. Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja memerlukan waktu 10 milyard tahun cahaya melalui galaksi-galaksi yang oleh Garnow disebut sebagai fosil-fosil jagad raya dan selanjutnya menuju alam yang sulit digambarkan jauhnya oleh akal pikiran dan panca indera manusia dengan segala macam peralatannya, karena belum atau bahkan tidak diketahui oleh para Astronomi, galaksi yang lebih jauh dari 20 bilyun tahun cahaya. Dengan kata lain mereka para Astronom tidak dapat melihat apa yang ada dibalik galaksi sejauh itu karena keadaannya benar-benar gelap mutlak.
Untuk mencapai jarak yang demikian jauhnya tentu diperlukan penambahan kecepatan yang berlipat kali kecepatan cahaya. Sayangnya kecepatan cahaya merupakan kecepatan yang tertinggi yang diketahui oleh manusia sampai hari ini atau bisa jadi karena parameter kecepatan cahaya belum terjangkau oleh manusia.
Dalam AlQur’an kita jumpai betapa hitungan waktu yang diperlukan oleh para malaikat dan ruh-ruh orang yang meninggal kembali kepada Tuhan: Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepadaNya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. 70:4)
Ukuran waktu dalam ayat diatas ada para ahli yang menyebut bahwa angka 50 ribu tahun itu menunjukkan betapa lamanya waktu yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada Tuhan.
Namun bagaimanapun juga ayat itu menunjukkan adanya perbedaan waktu yang cukup besar antara waktu kita yang tetap dibumi dengan waktu malaikat yang bergerak cepat sesuai dengan pendapat para ahli fisika yang menyebutkan “Time for a person on earth and time for a person in hight speed rocket are not the same”, waktu bagi seseorang yang berada dibumi berbeda dengan waktu bagi orang yang ada dalam pesawat yang berkecepatan tinggi.
Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas dinyatakan dengan angka satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun elektron atau 1 tahun Bima Sakti = 225 juta tahun waktu sistem solar.
Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat = 50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy Ilahi, 10 Milyard tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun waktu malaikat.
Namun malaikat Jibril kenyataannya dalam peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad Saw itu hanya menghabiskan waktu 1/2 hari waktu bumi /maksimum 12 Jam/ atau = 1/100.000 tahun Jibril.
Kejadian ini nampaknya begitu aneh dan bahkan tidak mungkin menurut pengetahuan peradaban manusia saat ini, tetapi para ilmuwan mempunyai pandangan lain, suatu contoh apa yang dikemukakan oleh Garnow dalam bukunya Physies Foundations and Frontier antara lain disebutkan bahwa jika pesawat ruang angkasa dapat terbang dengan kecepatan tetap /cahaya/ menuju kepusat sistem galaksi Bima Sakti, ia akan kembali setelah menghabiskan waktu 40.000 tahun menurut kalender bumi. Tetapi menurut sipengendara pesawat /pilot/ penerbangan itu hanya menghabiskan waktu 30 tahun saja. Perbedaan tampak begitu besar lebih dari 1.000 kalinya.
Contoh lain yang cukup populer, yaitu paradoks anak kembar, ialah seorang pilot kapal ruang angkasa yang mempunyai saudara kembar dibumi, dia berangkat umpamanya pada usia 0 tahun menuju sebuah bintang yang jaraknya dari bumi sejauh 25 tahun cahaya. Setelah 50 tahun kemudian sipilot tadi kembali kebumi ternyata bahwa saudaranya yang tetap dibumi berusia 49 tahun lebih tua, sedangkan sipilot baru berusia 1 tahun saja. Atau penerbangan yang seharusnya menurut ukuran bumi selama 50 tahun cahaya pulang pergi dirasakan oleh pilot hanya dalam waktu selama 1 tahun saja.
Dari contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa jarak atau waktu menjadi semakin mengkerut atau menyusut bila dilalui oleh kecepatan tinggi diatas yang menyamai kecepatan cahaya.
Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran dibumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi (semalam) atau 1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10-5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 -23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19-11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.
Nah, Barkah yang disebut dalam Qur’an yang melingkupi diri Nabi Muhammad Saw adalah berupa penjagaan total yang melindungi beliau dari berbagai bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga selama dalam perjalanan diruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi pernafasan Rasulullah Saw selama itu dan lain sebagainya.
Jadi, sekarang kita bisa mendeskripsikan tentang kendaraan bernama Buraq ini sedemikian rupa, apakah dia berupa sebuah pesawat ruang angkasa yang memiliki kecepatan diatas kecepatan sinar dan kecepatan UFO ? Ataukah dia berupa kekuatan yang diberikan Allah kepada diri Rasulullah Saw sehingga Rasul dapat terbang diruang angkasa dengan selamat dan sejahtera, bebas melayang seperti seorang Superman?
Sebagai suatu wahana yang sanggup membungkus dan melindungi jasad Rasulullah sedemikian rupa sehingga sanggup melawan/mengatasi hukum alam dalam hal perjalanan dimensi. Sekaligus didalamnya tersedia cukup udara untuk pernafasan Nabi Muhammad Saw dan penuh dengan monitor-monitor yang memungkinkan Nabi untuk melihat keluar ataupun juga monitor-monitor yang bersifat “Futuristik” , yaitu monitor yang memberikan gambaran kepada Rasulullah mengenai keadaan umatnya sepeninggal beliau nantinya.
Bukankah ada banyak juga hadist shahih yang mengatakan bahwa selama perjalanan menuju ke Muntaha itu Nabi Muhammad Saw telah diperlihatkan pemandangan- pemandangan yang luar biasa? Apakah aneh bagi Anda jika Nabi Muhammad Saw telah diperlihatkan oleh Allah (melalui monitor-monitor futuristik tersebut) terhadap apa-apa yang akan terjadi dikemudian hari? Apakah Anda akan mengingkari bahwa jauh setelah sepeninggal Rasul ada banyak sekali manusia-manusia yang mampu meramalkan ataupun melihat masa depan seseorang ?
Dalam dunia komputer kita mengenal virtual reality (VR) yaitu penampakan alam nyata ke dalam dimensi multimedia digital yang sangat interaktif sehingga bagaikan keadaan sesungguhnya. Apakah tidak mungkin Rasulullah telah merasakan fasilitas VR dari Allah Swt untuk mempresentasikan kepada kekasihNya itu surga dan neraka yang dijanjikanNya?
Anda pasti pernah mendengar sebutan “Paranormal” bukan? Jika anda mempercayai semua itu, maka apalah susahnya bagi anda untuk mempercayai bahwa hal itupun terjadi pada diri Rasulullah Saw, hanya saja bedanya bahwa semua itu merupakan gambaran asli dari Allah Swt yang sudah pasti kebenarannya tanpa bercampur dengan hal-hal yang batil. Hal ini juga bisa kita buktikan dengan banyaknya ramalan-ramalan Nabi terhadap keadaan umat Islam setelah beliau tiada dan menjadi kenyataan tanpa sedikitpun meleset? Darimana Rasulullah dapat melakukannya jika tidak diperlihatkan oleh Allah sebelumnya ?
Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.
(QS. 2:269)
Hikmah dalam ayat 2:269 dan ayat-ayat lainnya, saya artikan sebagai kebijaksanaan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya, kebijaksanaan ini berarti sangat luas, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dunia atau akhirat, sebagai perwujudan dari Rahman dan RahimNya.
Didalam Hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berangkat ke Muntaha dengan ditemani oleh malaikat Jibril yang didalam AlQur’an surah 53:6 dikatakan memiliki akal yang cerdas. Dan dalam perjalanan itu Nabi diberikan kendaraan bernama Buraq yang kecepatannya melebihi kecepatan sinar. Selanjutnya selama perjalanan Nabi banyak bertanya kepada malaikat Jibril tentang apa-apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya, ini menunjukkan bahwa Nabi dan Jibril berada dalam jarak yang berdekatan. Tidak mungkinkah Jibril ini yang mengemudikan Buraq untuk menuju ke Muntaha? Dalam kata lain, Jibril sebagai pilot dan Muhammad sebagai penumpang?
Bukankah Muhammad sendiri baru pertama kali itu mengadakan perjalanan ruang angkasa, sementara Jibril telah ratusan atau bahkan jutaan kali melakukannya didalam mengemban wahyu yang diamanatkan oleh Allah? Jika dikatakan Nabi sebagai pilot, dari mana Nabi mengetahui arah tujuannya berikut tata cara pengemudian Buraq ini, apalagi ditambah dengan banyaknya visi-visi alias Virtual Reality yang diberikan oleh Allah kepada beliau selama perjalanan dan mengharuskannya mengajukan beragam pertanyaan kepada Jibril? Namun jika kita kembalikan pada pendapat saya semula bahwa Jibril dalam hal ini berlaku sebagai pilot dan Nabi sebagai penumpang, maka semua pertanyaan dan keraguan yang timbul akan hilang.
Dalam hal ini Jibril adalah pilot terbang berpengalaman, ia juga sangat cerdas, sementara atas diri Nabi sendiri sudah diberikan oleh Allah Barqah disekeliling beliau, sehingga setiap perubahan yang terjadi dalam perjalanan, seperti goyangnya pesawat, tekanan gravitasi yang hilang, udara dan lain sebagainya tidak akan berpengaruh apa-apa pada diri Nabi yang mulia ini. Dan keadaan yang tanpa pengaruh apa-apa itu memungkinkan bagi Nabi untuk mengadakan pertanyaan-pertanya an atas visi-visi yang dilihatnya itu sekaligus dapat melihatnya secara jelas/Virtual Reality .
Kembali pada Jibril yang senantiasa meminta izin didalam memasuki setiap lapisan langit kepada malaikat penjaga, itu dikarenakan bahwa mereka tidak mengenali Jibril yang berada didalam Buraq itu, sehingga begitu Jibril menjawab, mereka baru bisa mengenali suaranya dan melakukan pendeteksian secara visi keadaan dalam Buraq sehingga nyatalah bahwa yang datang itu benar-benar Jibril.
Didalam Hadist juga disebutkan bahwa malaikat penjaga langit itu juga menanyakan tentang identitas sosok manusia yang dibawa oleh malaikat Jibril, yang tidak lain dari Rasulullah Muhammad Saw. Dan dijelaskan oleh Jibril bahwa Rasulullah Saw diutus oleh Allah dan telah pula diperintahkan untuk naik ke Muntaha. (Hadist mengenai ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dan dinyatakan oleh jumhur ulama dari ahlussunnah sebagai Hadist yang shahih).
Hal ini memang berkesan lucu bagi sebagian orang, apalagi mengingat bahwa Nabi adalah manusia yang paling mulia yang mendapatkan kedudukan terhormat yang bisa dibuktikan dengan bersandingnya nama Allah dan nama beliau dalam dua buah khalimah syahadat yang tidak boleh dicampuri, ditambah atau dikurangi dengan berbagai nama lain karena tiada hak bagi makhluk lainnya mencampuri masalah ini. Namun justru disinilah letak kebesaran Tuhan. Semuanya sengaja dipertunjukkan secara ilmiah kepada Nabi agar beliau dapat membuktikan sendiri betapa ketatnya penjagaan langit itu sebenarnya.
Seperti yang sudah dibahas di halaman artikel “Kajian Israk Miqraj” bahwa Muntaha itu terletak digalaksi terjauh, dimana Adam dulunya diciptakan dan ditempatkan pertama kali bersama Hawa. Tetapi sejak Adam bersama istrinya dan juga Jin serta Iblis diusir oleh Allah dari sana, maka penjagaan terhadap tempat tersebut diperketat sedemikian rupanya, sehingga tidak memungkinkan siapapun juga kecuali para malaikat untuk dapat memasukinya, seperti yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72: “…Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu.” (QS. 72:9) “…kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.” (QS. 72:8) “…Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai.” (QS. 72:9)
Dalam hal ini bisa diasumsikan bahwa yang disebut dengan lapisan langit pada Muntaha itu adalah berupa planet-planet yang terdekat dengan “bumi-muntaha” , hal ini saya hubungkan dengan pernyataan Qur’an pada surah 72:9 bahwa Jin atau Iblis itu dapat menduduki beberapa tempat. Mampu menduduki tempat disana artinya mampu berdiam ditempat tersebut, dan karena tempat itu ganda (beberapa tempat), maka jelas tempat itu bukan Muntaha itu sendiri, namun tempat yang terdekat dari Muntaha.
Sesuai dengan kajian saya sebelumnya, bahwa Muntaha itu berupa bumi yang disekitarnya juga terdapat planet-planet, maka planet-planet itulah tempat atau posisi para syaithan itu berdiam dahulunya untuk mencuri dengar berita-berita langit.
Muntaha sendiri berarti “Dihentikan” atau bisa juga kita tafsirkan sebagai tempat terakhir dari semua urusan berlabuh. Tempat yang menjadi perbatasan segala pencapaian kepada Tuhan.
Sidrah berarti “Teratai” yaitu bunga yang berdaun lebar, hidup dipermukaan air kolam atau telaga. Uratnya panjang mencapai tanah dasar air tersebut. Bilamana pasang naik, teratai akan ikut naik, dan bila pasang surut diapun akan turun, sementara uratnya tetap terhujam pada tanah dasar tempatnya bertumbuh.
Teratai yang berdaun lebar menyerupai keadaan planet yang memiliki permukaan luas, sungguh harmonis untuk tempat kehidupan makhluk hidup. Teratai berurat panjang mencapai tanah dasar dimana dia tumbuh tidak mungkin bergerak jauh, menyerupai keadaan planet yang selalu berhubungan dengan matahari darimana dia tidak mungkin bergerak jauh dalam orbit zigzagnya dari garis ekliptik. Dan air dimana teratai berada menyerupai angkasa luas dimana semua planet yang ada mengorbit mengelilingi matahari.
Turun naik teratai dipermukaan air berarti orbit planet mengelilingi matahari berbentuk oval, bujur telur, dimana ada titik Perihelion yaitu titik terdekat pada matahari yang dikitarinya, begitupula ada titik Aphelion, titik terjauh dari matahari. Sewaktu planet berada di Aphelionnya dia bergerak lambat. Keadaan gerak demikian membantu kestabilan orbit setiap planet yang mulanya hanya didasarkan atas kegiatan magnet yang dimilikinya saja.
Allah sendiri tidak berposisi di Muntaha, meskipun Muntaha itu merupakan planet terjauh dan terpinggir dalam bentangan alam semesta sekaligus sebagai dimensi tertinggi, dimana mayoritas malaikat berada disana sembari memuji dan bertasbih kepada Allah, ia hanyalah sebagai suatu tempat ciptaan Allah yang pada hari kiamat kelak akan dileburkan pula dan semua isinya, termasuk para malaikat itu akan mati kecuali siapa yang dikehendakiNya saja (QS. 27:87), hanya Allah sajalah satu-satunya dimensi Tertinggi yang kekal dan abadi (QS. 2:255).
2. Allah SWT bisa melakukan apapun yang Allah SWT kehendaki tapi kalau kita gunakan nalar maka sebagai berikut: RASULLAH MEMANFAATKAN TEKNOLOGI DIGITAL YANG SUPER MAJU DAN SUPER TINGGI ATAU MUNGKIN RASULULLAH MEMASUKI DUNIA HOLOGRAM YANG MENUNJUKAN SURGA DAN NERAKA SERTA APA YANG TERJADI DALAM KEDUA TEMPAT BERBEDA TERSEBUT.
3. ALLAH SWT MEMANG TIDAK DAPAT DITAWAR TAPI ALLAH SWT MENGUJI AKAL PIKIRAN NABI MUHAMMAD SAW TENTANG BERAPA SEHARUSNYA SHALAT WAJIB SEHARI SEMALAM.
Dalam kisah diatas dijelaskan beliau menerima kewajiban 50 shalat kemudian atas saran Nabi Musa a.s sehingga berkali-kali Nabi Muhammad SAW ‘naik-turun’ untuk usul ‘keringanan’ shalat kepada Allah SWT. Mungkinkah hal ini dilakukan oleh beliau ? Nabi Muhammad SAW itu berbudi pekerti yang agung dan sami’na wa atho’na atau ‘aku dengar dan aku taat’. Walau misalnya kisah ini tercantum dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim, namun bila isinya tidak sesuai dan bertentangan dengan ayat Al Quran tentunya kita akan menolak hadits tersebut.
Kesimpulan lainnya dari kisah diatas adalah pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj itulah turunnya perintah shalat lima waktu. Berarti sebelum Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW dan umatnya belum melaksanakan shalat lima waktu karena belum ada perintah dari Allah SWT. Benarkah fakta ini ?
Shalat lima waktu adalah tiangnya agama Islam. Sebenarnya di tahun pertama kenabian sudah ada perintah shalat wajib yaitu shalat Lail dan shalat lima waktu. Shalat lima waktu saat itu terdiri atas shalat Isya 2 rakaat, Subuh 2 rakaat, Lohor 2 rakaat, Ashar 2 rakaat dan Maghrib 3 rakaat. Kemudian pada waktu Isra’ Mi’raj itu Nabi Muhammad SAW diberi ketetapan shalat lima waktu, bukan diberi kewajiban shalat lima waktu. Ketetapan shalat lima waktu adalah wajib, tidak bakal dirubah dan tidak bakal diganti untuk selama-lamanya. Sedangkan hukum shalat Lail itu dirubah yang awalnya merupakan shalat wajib kemudian dirubah menjadi shalat sunat.
Pada tahun 1 hijrah ada perubahan jumlah rakaat shalat lima waktu. Sebelum hijrah jumlah rakaatnya ada 11 rakaat yaitu shalat Isya 2 rakaat, Subuh 2 rakaat, Dhuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat dan Maghrib 3 rakaat. Kemudian di tahun 1 hijrah bagi orang yang tidak musafir rincian jumlah rakaatnya menjadi shalat Isya 4 rakaat, Subuh 2 Rakaat, Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat dan Maghrib 3 rakaat; sedangkan bagi orang yang musafir kewajiban shalat lima waktu kembali seperti sebelum hijrah yaitu shalat Isya 2 rakaat, Subuh 2 rakaat, Dhuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat dan Maghrib 3 rakaat.
Dalam Al Quran surat Al Muzzammil yang turun pada tahun pertama kenabian menjadi bukti bahwa shalat lima waktu telah diperintahkan kepada Rasulullah SAW dan umat Islam jauh sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj. Disamping itu dalam Kitab Jamiush Shaghir jilid I bab huruf Alif halaman 195, bersabda Rasulullah SAW : “Awalnya sesuatu yang difardhukan oleh Allah Ta’ala atas umatku ialah shalat lima (waktu) dan awalnya sesuatu yang dinaikkan dari amal mereka adalah shalat lima (waktu) dan awalnya sesuatu yang ditanyakan ialah tentang shalat lima (waktu)”.
Namun perbedaan paham dalam masalah ini hendaknya tidak menjadikan pertentangan yang tajam diantara umat Islam. Perbedaan paham adalah hal yang wajar. Semua hal hendaknya dikaji, ditelaah dan dicermati dengan lebih teliti sebelum memutuskan menolak atau menerima pendapat seperti ini.